Ruang Hidup
Dalam ruang hidup yang gema dan sederhana,
Aku mengajakmu berkisah di selasar rindu mengenai satu dan lain hal,
Di tengah daun randu dan kembang melati yang gugur di pelataran,
Kubawa Kau ke temaramnya kehidupan,
Kukenali Kau dengan suramnya kehilangan,
Kubiarkan Kau saksikan celanya kebohongan,
Kuujar; Dik, tak akan pernah ada hidup yang lepas dari kepura-puraan.
Di tengah bercerita, ku hening dan membaringkan pikiran pada teduhnya tatapanmu,
Kupikir, tak akan ada ajalnya berbicara soal hidup dan mati,
Bukankah manusia terlalu kecil untuk paham busuknya bait dan larik dari kehidupan?
Maka, tinggalkanlah urusanmu,
Akankah lebih baik untuk kita duduk bersama dan larut dalam permainan asmara?
Tragedi menyempurnakan kekurangan masing-masing diri,
Mengasingkan aku dan Kau dari fananya waktu,
Rehat sejenak dan tunda perjalanan,
Mari, membuat cinta di hadapan bulan yang tersengal memaksa kita untuk berlari, sepanjang malam.
2017
Selasa, 20 November 2018
Jumat, 02 Desember 2016
Ngarai
Di tengah keruhnya riuh rendah risalah umat manusia,
ku masih saja memikirkanmu.
Dari dalamnya mata air kehidupan, berseberanganlah perasaan kita.
Aromamu tercium abadi di permukaannya,
seakan terapung,
namun menyentuh dasar.
Isyarat dari perasaanku yang menari kekal di kehampaan.
.
Di lebatnya Meranti dan Jati yang hidup subur di akar-akar perasaanku.
kau menjadi arogansi yang kupertaruhkan.
Namun tak begitu dengan Kau, kekasih.
Kau buatku mabuk, lalu Kau tinggalkanku di ngarai.
Isyarat dari perasaanku yang menepi di ketemaraman.
O, kekasih.
Pergilah,
Tapi jangan kau tinggalkan bayangmu.
2016
Senin, 21 November 2016
Konsonan
Pagi bersahut, sepasang mata tak kunjung padam.
Kelelahan sehari penuh bukan hanya sekadar bual bicara,
Namun tubuh tetap tak rebah.
Apa yang salah nian?
Bukankah terbaring sungkur dalam syahdunya mati ialah hajat?
Namun pikiran memaksa mengikut puar angin menuju luasnya lapang.
Lapang ruang harap serta mimpi dipeluk erat.
Tak ada waktu akan hingar di kosongnya mati
Kerana kematian tak pernah ada dalam pilihan.
2016
Kelelahan sehari penuh bukan hanya sekadar bual bicara,
Namun tubuh tetap tak rebah.
Apa yang salah nian?
Bukankah terbaring sungkur dalam syahdunya mati ialah hajat?
Namun pikiran memaksa mengikut puar angin menuju luasnya lapang.
Lapang ruang harap serta mimpi dipeluk erat.
Tak ada waktu akan hingar di kosongnya mati
Kerana kematian tak pernah ada dalam pilihan.
2016
Badai
Dari dalamnya bait sajak ini, kutemukan kegelisahan
Aku menari di tengahnya,
pun larut di kelamnya badai keraguan.
Dari dalamnya bait sajak ini, kutemukan kebimbangan
Aku menari di tengahnya,
pun larut di kelamnya badai kepalsuan.
Dari dalamnya bait sajak ini, kutemukan kebahagiaan
Kau diam ditengahnya,
pun hentikan segala dahsyatnya badai.
2016
Aku menari di tengahnya,
pun larut di kelamnya badai keraguan.
Dari dalamnya bait sajak ini, kutemukan kebimbangan
Aku menari di tengahnya,
pun larut di kelamnya badai kepalsuan.
Dari dalamnya bait sajak ini, kutemukan kebahagiaan
Kau diam ditengahnya,
pun hentikan segala dahsyatnya badai.
2016
Rabu, 30 Maret 2016
Ketetapan
Kau dan aku tegar, pesat melesat menuju angan yang hampa
Bersama kenangan tak bermakna kau bawa lalu tinggalkan aku di liang harap
Bibir kuyupku seperti berkata namun tak melahirkan apa-apa
Inikah akhir dari sebuah keharusan?
Aku mencintaimu dengan segala alasan yang membuat aku, kau dan umat manusia bernafas
Namun inilah akhir
Inilah batas
Dasar
Ujung dari segala ruang dan waktu yang kita arungi bermasa-masa lamanya
Berbagi peluh, hasrat hingga nelangsa bersama kau dan waktu adalah dimensi lain dalam keruhnya perjalananku menuju mati
Namun, sekali lagi, inilah akhir
Inilah tujuan
Ajal dari segala
Walau bagaimanapun
Walau seperti apapun
Walau apapun
Kau-lah ketetapan
2016
Bersama kenangan tak bermakna kau bawa lalu tinggalkan aku di liang harap
Bibir kuyupku seperti berkata namun tak melahirkan apa-apa
Inikah akhir dari sebuah keharusan?
Aku mencintaimu dengan segala alasan yang membuat aku, kau dan umat manusia bernafas
Namun inilah akhir
Inilah batas
Dasar
Ujung dari segala ruang dan waktu yang kita arungi bermasa-masa lamanya
Berbagi peluh, hasrat hingga nelangsa bersama kau dan waktu adalah dimensi lain dalam keruhnya perjalananku menuju mati
Namun, sekali lagi, inilah akhir
Inilah tujuan
Ajal dari segala
Walau bagaimanapun
Walau seperti apapun
Walau apapun
Kau-lah ketetapan
2016
Senin, 03 Agustus 2015
problematika.
berat dan caci, sulit dan cela, tak juga terlelap.
berat dan lelah, sulit dan juang, tak juga terlelap
berat dan jenuh, sulit dan jemu, tak juga terlelap
berat dan terik, sulit dan sengangar, tak juga terlelap
berat dan walau, sulit dan tentu, tak juga terlelap
berat dan koma, sulit dan titik, tak juga terlelap
berat dan noda, sulit dan noktah, tak juga terlelap
berat dan Arjuna, sulit dan Rahwana, tak juga terlelap
berat dan Cinta, sulit dan Risau, tak juga terlelap
maka akan selalu Berat dan Sulit untuk terlelap
2015
berat dan lelah, sulit dan juang, tak juga terlelap
berat dan jenuh, sulit dan jemu, tak juga terlelap
berat dan terik, sulit dan sengangar, tak juga terlelap
berat dan walau, sulit dan tentu, tak juga terlelap
berat dan koma, sulit dan titik, tak juga terlelap
berat dan noda, sulit dan noktah, tak juga terlelap
berat dan Arjuna, sulit dan Rahwana, tak juga terlelap
berat dan Cinta, sulit dan Risau, tak juga terlelap
maka akan selalu Berat dan Sulit untuk terlelap
2015
Senin, 29 Juni 2015
selayang pandang
kulewati, kuarungi sepenuh hari
perlahan, meniti sendi dalam sendi
patah, namun tak berhenti.
menarilah, menangislah pada pergantian hari
berteriaklah, adulah semua nurani
namun, ada yang tak terbeli
ada yang tak dibeli
ada yang tak kubeli
ada yang tak sanggup dibeli
...
kau
kau dan segala aroma bunga hyacinth yang abadi
2015
perlahan, meniti sendi dalam sendi
patah, namun tak berhenti.
menarilah, menangislah pada pergantian hari
berteriaklah, adulah semua nurani
namun, ada yang tak terbeli
ada yang tak dibeli
ada yang tak kubeli
ada yang tak sanggup dibeli
...
kau
kau dan segala aroma bunga hyacinth yang abadi
2015
Langganan:
Postingan (Atom)