membisu tak selalu tentang diam.
terkadang membisu adalah satu-satunya pilihan yang harus diperbuat.
seperti sesuatu yang terjadi pada hari ke empat belas di desember ku ini.
pada pukul enam sore.
pada hujan itu.
pada angkara itu.
melintasi tiap-tiap tembok kokoh yang sombong.
dengan mesin yang setiap insan sebut sebagai bikun.
menghadang apa-apa dan sesiapa saja yang tersungkur di permainan ini.
jerit dan purna tidak akan bisa sesiapa pun lihat.
bahkan psikolog termutakhir sekalipun.
lelehan kehidupan berputar di lorong sanubariku.
membicarakan kehidupan akan selalu tentang cinta.
namun kali ini tidak.
buih-buih kehidupan sisa deburan ombak kucoba muntahkan.
dari ombak ulung pemangsa kebahagiaan.
nelangsa.
ironi.
meronta saat itu bukanlah titisan wahyu Tuhan.
aku mencinta Tuhan lebih dari apapun.
pun tidak sebaliknya.
tapi sepenuhnya, seutuhnya, sesucinya.
aku percaya padamu.
Wa' la tamutunna illa wa' antum muslimunn.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar